Tuesday, February 9, 2010

Niat Baik

Kata mbak titut "niat baik akan berakhir dengan baik" ...
amin,....

sekarang ini ketika waktu2 mendekati hari saya menikah, saya jadi sangat sensitif dengan omongan-omongan orang. sakit hati, sampai harus nangis.

yang ingin saya lakukan adalah menikahi lelaki yang saya cintai, secara sah dimata hukum dan agama. tapi hanya sejauh ini saja yang saya mampu untuk mencapai hal tersebut.

ada yang tanya "kenapa kamu gak cari bule yang deket2 aja? di jepara kan banyak tuh?".. trus ada yang komentar "kamu tuh obsesi punya suami bule ya?"... heran banget, itu kok pertanyaan dan komentar bisa keluar dari mulut tanpa dipikir pake otak. kecuali selama ini saya ganti2 pacar bule, selama ini saya punya pacar cuman sekali, hanya dia calon suami saya yang ndilalah bukan orang indonesia.

kalau bisa memilih, saya memilih untuk jatuh cinta pada orang indonesia, jawa, rumahnya deket, muslim, baik, sayang, pengertian dan bertanggung jawab dll dsb.
ada juga yang berkomentar, kenapa tidak mencoba menghindar, untuk tidak mencintainya. heran juga, saya kan pacaran sudah 7 tahun, gak mungkin selama 7 tahun saya cuman menunggu, selama 7 tahun itu pasti buanyak konflik yang terjadi, selama 7 tahun itu pasti saya sudah memikirkan tentang hal ini dan itu, termasuk agama, budaya, dll dsb.

saya akan menikah secara Islam, otomatis calon saya harus menjadi mualaf, dan itu akan dilakukan oleh calon suami saya. entah atas dasar apa suamis aya menyanggupi, itu urusan pribadi calon suami saya.
saya yang seorang muslim dari awal, hanya bisa menuntun dan memberi tahu mengenai Islam sebatas kemampuan saya, namun keyakinan dan iman calon suami itu sudah kembali ke pribadi calon suami saya. selama calon suami saya menghargai keyakinan saya, saya juga harus menghargai apa yang diyakini calon suami saya.

tapi ada juga orang yang menghakimi, mengatakan bahwa nanti doa-doa saya tidak akan dikabulkan, ketika menurut saya yang mengabulkan doa hanya Allah, maka bukan hak manusia atau orang yang sok tau itu untuk menghakimi/memutuskan diterima atau tidaknya doa saya.

ada yang mengatakan kalau itu sama saja berzina. selama ini, 7 tahun saya berpacaran saya tidak pernah melakukan hal "itu" dengan calon suami saya. saya berusaha sekali untuk bisa menikah secara sah hukum dan agama, dengan usaha saya yang maksimal namun terbatas ini.
calon sumai saya juga bukan suami orang. lalu dimana berzina nya?

kalau saya punya rencana untuk murtat, itu sangat gampang. saya tidak perlu menyuruh calon saya untuk datang dan menikahi saya di sini, meminta restu ke orang tua saya, mengurus surat2 pernikahan dll dsb. saya bisa saja langsung pergi pindah ke negara nya.

kenapa orang orang cenderung menghakimi, daripada berdoa yang terbaik antar sesamanya.

saya berfikir, orang2 itu pasti tidak mendoakan apalagi merestui pernikahan kami nanti.
saya berfikir orang2 itu mempunyai pikiran "lihat saja nanti rumah tanggamu akan seperti apa kalau kamu nekat menikah dengan lelaki itu" ... yang saya anggap itu adalah doa jelek.

semoga semua doa kembali ke orang nya masing2. dan trimakasih untuk yang mau mendoakan yang tebaik untuk saya dan calon suami saya.

Karena Niat kami baik, semoga juga akan berakhir dengan baik.